Sebetulnya sebatas mana sih peran perawat dalam program
pengobatan pada pasien, jangan salah kaprah yah….. karna dalam dalam program
pengobatan ini ada peran dokter dan ada peran perawat…. Semoga bermanfaat…
Peran adalah serangkaian
perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang
diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan
pada preskripsi ( ketentuan ) dan harapan peran yang menerangkan apa yang
individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat
memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut
peran-peran tersebut. ( Friedman, M, 1998 : 286 )
Perawat adalah seseorang yang
memiliki pengetahuan, keterampilan dan kewenanganuntuk memberikan asuhan
keperawatan pada orang lain berdasarkan ilmu dan kiat yangdimilikinya dalam
batas-batas kewenangan yang dimilikinya. (PPNI, 1999;
Chitty, 1997).
Perawat adalah seseorang yang
telah lulus pendidikan perawat baik di dalam maupun diluar negeri sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.(Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 1239/MenKes/SK/XI/2001 tentang Registrasi danPraktik Perawat
pada pasal 1 ayat1)
PERAN PERAWAT
Menurut konsorsium ilmu kesehatan tahun 1989 peran perawat
terdiri dari :
1)
Sebagai
pemberi asuhan keperawatan
Peran
ini dapat dilakukan perawat denganmemperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia
yang dibutuhkan melalui pemberianpelayanan keperawatan. Pemberian asuhan
keperawatan ini dilakukan dari yang sederhanasampai dengan kompleks.
2)
Sebagai
advokat klien
3)
Peran ini
dilakukan perawat dalam membantu klien & kelgdalam menginterpretasikan
berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalampengambilan
persetujuan atas tindakan keperawatan. Perawat juga berperan
dalammempertahankan & melindungi hak-hak pasien meliputi:
-
Hak atas pelayanan sebaik-baiknya
-
Hak atas informasi tentang
penyakitnya
-
Hak atas privasi
-
Hak untuk menentukan nasibnya
sendiri
-
Hak menerima ganti rugi akibat
kelalaian
4)
Sebagai
educator.
Peran
ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkantingkat pengetahuan
kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehinggaterjadi
perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.
5)
Sebagai
coordinator.
Peran
ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan sertamengorganisasi pelayanan
kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanankesehatan dapat terarah
serta sesuai dengan kebutuhan klien
6)
Sebagai
kolaborator.
Peran
ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatanyang terdiri dari
dokter, fisioterapi, ahli gizi dll dengan berupaya mengidentifikasi
pelayanankeperawatan yang diperlukan.
7)
Sebagai
konsultan
Perawat
berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakanperencanaan, kerjasama,
perubahan yang sistematis & terarah sesuai dengan metodepemberian pelayanan
keperawatan
PERAN
PERAWAT DALAM PEMBERIAN OBAT
Pemberian obat menjadi salah satu tugas seorang perawat yang
paling penting. Perawat adalah mata rantai terakhir dalam proses pemberian obat
kepada pasien. Perawat bertanggung jawab pada obat itu diberikan dan memastikan
bahwa obat tersebut benar. Obat yang diberikan kepada pasien, menjadi bagian
integral dari rencana keperawatan. Perawat yang paling tahu tentang kebutuhan
dan respon pasien terhadap pengobatan. Misalnya, pasien yang sukar menelan,
muntah atau tidak dapat minum obat karena alasan tertentu. Faktor gangguan
visual, pendengaran, intelektual atau motorik, yang mungkin menyebabkan pasien
tidak bisa mengkonsumsi obat juga harus diperhatikan. Rencana tindakan
keperawatanan harus mencangkup rencana pemberian obat, pengetahuan tentang
kerja dan interaksi obat, efek samping, lama kerja obat dan program dari
dokter.
Tugas seorang perawat sebelum memberikan obat adalah harus
memeriksa identitas pasien yang meliputi : papan identitas di tempat tidur,
gelang identitas atau ditanyakan langsung kepada pasien dan keluarganya. Jika
pasien tidak sanggup berespon secara verbal, respon non verbal dapat dipakai,
misalnya pasien mengangguk. Jika pasien tidak sanggup mengidentifikasi diri
akibat gangguan mental atau kesadaran, harus dicari cara identifikasi yang lain
seperti menanyakan langsung kepada keluarganya. Obat memiliki nama dagang dan
nama generik. Setiap obat dengan nama dagang harus diperiksa nama generiknya
sebelum obat tersebut diberikan oleh perawat. Sebelum memberi obat kepada
pasien, label pada botol atau kemasannya harus diperiksa tiga kali. Pertama
saat membaca permintaan obat dan botolnya diambil dari rak obat, kedua label
botol dibandingkan dengan obat yang diminta, ketiga saat dikembalikan ke rak
obat. Jika labelnya tidak terbaca, isinya tidak boleh dipakai dan Tugas seorang
perawat adalah harus mengembalikan ke bagian farmasi.
Setelah obat diberikan, tugas seorang perawat adalah
mendokumentasikan, dosis, cara/ rute, waktu dan oleh siapa obat itu diberikan.
Bila pasien menolak diberikan obat, atau obat itu tidak dapat dapat diberikan
karena alasan tertentu, perawat harus mencatat alasannya dan dilaporkan kepada
dokter untuk tindakan selanjutnya.
Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat –
obatan yang aman . Perawat harus mengetahui semua komponen dari perintah
pemberian obat dan mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap atau
tidak jelas atau dosis yang diberikan di luar batas yang direkomendasikan .
Secara hukum perawat bertanggung jawab jika mereka memberikan obat yang
diresepkan dan dosisnya tidak benar atau obat tersebut merupakan kontraindikasi
bagi status kesehatan klien . Sekali obat telah diberikan , perawat bertanggung
jawab pada efek obat yang diduga bakal terjadi. Buku-buku referensi obat
seperti , Daftar Obat Indonesia ( DOI ) , Physicians‘ Desk Reference
(PDR), dan sumber daya manusia , seperti ahli farmasi , harus dimanfaatkan
perawat jika merasa tidak jelas mengenai reaksi terapeutik yang
diharapkan , kontraindikasi , dosis , efek samping yang mungkin terjadi , atau
reaksi yang merugikan dari pengobatan ( Kee and Hayes, 1996 ).
Obat adalah
benda atau zat yang dapat digunakan untuk merawat penyakit, membebaskan gejala, atau mengubah proses kimia dalam tubuh.
Obat ialah
suatu bahan atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam
menetapkan diagnosis, mencegah, mengurangkan, menghilangkan, menyembuhkan
penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah dan rohaniah pada
manusia atau hewan dan untuk memperelok atau memperindah badan atau bagian
badan manusia termasuk obat tradisional.
Peran Perawat Dalam
Pemberian Obat
prinsip
12 benar, yaitu:
1.
Benar Klien
§ Selalu dipastikan dengan memeriksa identitas pasien dengan
memeriksa gelang identifikasi dan meminta menyebutkan namanya sendiri.
§ Klien berhak untuk mengetahui alasan obat
§ Klien berhak untuk menolak penggunaan sebuah obat
§ Membedakan klien dengan dua nama yang sama
2.
Benar Obat
§ Klien dapat menerima obat yang telah diresepkaNn
§ Perawat bertanggung jawab untuk mengikuti perintah yang
tepat
§ Perawat harus menghindari kesalahan, yaitu dengan membaca
label obat minimal tiga kali:
- Pada saat melihat botol atau kemasan obat
- Sebelum menuang/menghisap obat
- Setelah menuang/ mengisap obat
§ Memeriksa apakah perintah pengobatan lengkap dan sah
§ Mengetahui alasan mengapa klien menerima obat tersebut
§ Memberikan obat-obatan tanda: nama obat, tanggal kadaluarsa
3.
Benar Dosis Obat
§ Dosis yang diberikan klien sesuai dengan kondisi klien.
§ Dosis yang diberikan dalam batas yang direkomendasikan untuk
obat yang bersangkutan.
§ Perawat harus teliti dalam menghitung secara akurat jumlah
dosis yang akan diberikan, dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
tersedianya obat dan dosis obat yang diresepkan/ diminta, pertimbangan berat
badan klien (mg/KgBB/hari), jika ragu-ragu dosisi obat harus dihitung kembali
dan diperiksa oleh perawat lain.
§ Melihat batas yang direkomendasikan bagi dosis obat
tertentu.
4.
Benar Waktu Pemberian
§ Pemberian obat harus sesuai dengan waktu yang telah
ditetapkan.
§ Dosis obat harian diberikan pada waktu tertentu dalam
sehari. Misalnya seperti dua kali sehari, tiga kali sehat, empat kali sehari
dan 6 kali sehari sehingga kadar obat dalam plasma tubuh dapat dipertimbangkan.
§ Pemberian obat harus sesuai dengan waktu paruh obat (t ½ ).
Obat yang mempunyai waktu paruh panjang diberikan sekali sehari, dan untuk obat
yang memiliki waktu paruh pendek diberikan beberapa kali sehari pada selang
waktu tertentu.
§ Pemberian obat juga memperhatikan diberikan sebelum atau
sesudah makan atau bersama makanan
§ Memberikan obat obat-obat seperti kalium dan aspirin yang
dapat mengiritasi mukosa lambung bersama-sama dengan makanan.
§ Menjadi tanggung jawab perawat untuk memeriksa apakah klien
telah dijadwalkan untuk memeriksa diagnostik, seperti tes darah puasa yang
merupakan kontraindikasi pemeriksaan obat.
5.
Benar Cara Pemberian (rute)
§ Memperhatikan proses absorbsi obat dalam tubuh harus tepat
dan memadai.
§ Memperhatikan kemampuan klien dalam menelan sebelum
memberikan obat-obat peroral.
§ Menggunakan teknik aseptik sewaktu memberikan obat melalui
rute parenteral
§ Memberikan obat pada tempat yang sesuai dan tetap bersama
dengan klien sampai obat oral telah ditelan.
§ rute yang lebih sering dari absorpsi adalah
1)
Oral ( melalui mulut ): cairan ,
suspensi ,pil , kaplet , atau kapsul .
2)
Sublingual ( di bawah lidah untuk
absorpsi vena ) ;\
3)
bukal (diantara gusi dan pipi)
4)
topikal ( dipakai pada kulit ) ;
5)
inhalasi ( semprot aerosol ) ;
6)
instilasi ( pada mata, hidung,
telinga, rektum atau vagina )
7)
parenteral : intradermal , subkutan
, intramuskular , dan intravena.
6.
Benar Dokumentasikan.
Pemberian obat sesuai dengan standar prosedur yang berlaku
di rumah sakit. Dan selalu mencatat
informasi yang sesuai mengenai obat yang telah diberikan serta respon klien
terhadap pengobatan.
7.
Benar pendidikan kesehatan perihal
medikasi klien
Perawat mempunyai tanggungjawab dalam melakukan pendidikan kesehatan pada pasien, keluarga dan masyarakat luas terutama yang berkaitan dengan obat seperti manfaat obat secara umum, penggunaan obat yang baik dan benar, alasan terapi obat dan kesehatan yang menyeluruh, hasil yang diharapkan setelah pembeian obat, efek samping dan reaksi yang merugikan dari obat, interaksi obat dengan obat dan obat dengan makanan, perubahan-perubahan yang diperlukan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari selama sakit.
Perawat mempunyai tanggungjawab dalam melakukan pendidikan kesehatan pada pasien, keluarga dan masyarakat luas terutama yang berkaitan dengan obat seperti manfaat obat secara umum, penggunaan obat yang baik dan benar, alasan terapi obat dan kesehatan yang menyeluruh, hasil yang diharapkan setelah pembeian obat, efek samping dan reaksi yang merugikan dari obat, interaksi obat dengan obat dan obat dengan makanan, perubahan-perubahan yang diperlukan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari selama sakit.
8.
Hak klien untuk menolak
Klien berhak untuk menolak dalam
pemberian obat. Perawat harus memberikan Inform consent dalam pemberian obat.
9.
Benar pengkajianiksa TTV
(Tanda-tanda vital) sebelum pemberian obat.
10.
Benar evaluasi
Perawata selalu melihat/ memantau
efek kerja dari obat setelah pemberiannya.
11.
Benar reaksi terhadap makanan
Obat memiliki efektivitas jika
diberikan pada waktu yang tepat. Jika obat itu harus diminum sebelum makan
(ante cimum atau a.c) untuk memperoleh kadar yang diperlukan harus diberi satu
jam sebelum makan misalnya tetrasiklin, dan sebaiknya ada obat yang harus
diminum setelah makan misalnya indometasin.
12.
Benar reaksi dengan obat lain
Pada penggunaan obat seperti
chloramphenicol diberikan dengan omeprazol penggunaan pada penyakit kronis.
Perawat mempunyai tanggung jawab dalam sampainya obat
keada pasien dan digunakannya obat oleh pasien sehingga obat tersebut efektif
dala membantu mengatasi masalah pasien. Secara terperinci peran perawat dalam
penatalaksanaan obat di rmah sakit jiwa adalah :
1.
Mengumpulkan
data sebelum pengobatan
Dalam
pelaksanaan peran ini perawat di dukung oleh latar belakang pengetahuan
biologis dan perilaku. Data yang perlu dikumpulkan antara lainriwayat penyakit
diagnosa medis riwayat engobatan hasil laboratorium jenis obat yang akan
digunakan dan perawat perlu mengetahui program terapi lain bagi pasien.
Pengumpulan data ini digunakan agar asuhan keperawatan yang diberikan bersifat
menyeluruh dan merupakan satu kesatuan.
2.
Mengkoordinasikan
obat dengan terapi modalitas
Pemilihan
terapi yang tepat sesuai dengan program pengobatan pasien akan memberikan hasil
yang lebih baik.
3.
Pendidikan
Kesehatan
Pasien di
rumah sakit jiwa sangat membutuhkan pendidikan kesehatan tentang obat yang
diperolehnya karena pasien sering tidak mau minum obat yang dianggap tidak ada
manfaatnya. Contoh pada klien curiga yang menganggap obat sebagai racun. Selain
itu pendidikan kesehatan juga diperlukan keluarga karena adanya anggapan jika
pasien sudah ulang kerumah maka tidak perlu lagi minum obat padahal hal ini
menyebabkan risiko kanker kambuh dan dirawat kembali.
4.
Memonitor
efek samping obat
Selain efek
yang diharapkan, perawat juga harus memonitor efek samping obat dan
reaksi-reaksi lain yang kurang baik setelah minum obat.
Karena
obat dapat menyembuhkan atau merugikan pasien, maka pemberian obat menjadi
salah satu tugas perawat yang paling penting. Perawat adalah mata rantai
terakhir dalam proses pemberian obat kepada pasien. Perawat yang bertanggung
jawab bahwa obat itu diberikan dan memastikan bahwa obat itu benar diminum.
Bila
ada obat yang diberikan kepada pasien, hal itu harus menjadi bagian integral
dari rencana keperawatan. Perawat yang paling tahu tentang kebutuhan dan respon
pasien terhadap pengobatan. Misalnya, pasien yang sukar menelan, muntah atau
tidak dapat minum obat tertentu (dalam bentuk kapsul). Faktor gangguan visual,
pendengaran, intelektual atau motorik, yang mungkin menyebabkan pasien sukar
makan obat, harus dipertimbangkan.
Rencana
perawatan harus mencangkup rencana pemberian obat, bergantung pada hasil
pengkajian, pengetahuan tentang kerja dan interaksi obat, efek samping, lama
kerja, dan program dokter.
Prinsip Enam Benar
1.
Benar Pasien
Sebelum obat diberikan, identitas
pasien harus diperiksa (papan identitas di tempat tidur, gelang identitas) atau
ditanyakan langsung kepada pasien atau keluarganya. Jika pasien tidak sanggup
berespon secara verbal, respon non verbal dapat dipakai, misalnya pasien
mengangguk. Jika pasien tidak sanggup mengidentifikasi diri akibat gangguan
mental atau kesadaran, harus dicari cara identifikasi yang lain seperti
menanyakan langsung kepada keluarganya. Bayi harus selalu diidentifikasi dari
gelang identitasnya.
2.
Benar Obat
Obat memiliki nama dagang dan nama
generik. Setiap obat dengan nama dagang yang kita asing (baru kita dengar
namanya) harus diperiksa nama generiknya, bila perlu hubungi apoteker untuk
menanyakan nama generiknya atau kandungan obat. Sebelum memberi obat kepada
pasien, label pada botol atau kemasannya harus diperiksa tiga kali.
Pertama saat membaca permintaan obat dan botolnya diambil dari rak obat, kedua
label botol dibandingkan dengan obat yang diminta, ketiga saat dikembalikan ke
rak obat. Jika labelnya tidak terbaca, isinya tidak boleh dipakai dan harus
dikembalikan ke bagian farmasi.
Jika pasien meragukan obatnya,
perawat harus memeriksanya lagi. Saat memberi obat perawat harus ingat untuk
apa obat itu diberikan. Ini membantu mengingat nama obat dan kerjanya.
3.
Benar Dosis
Sebelum memberi obat, perawat harus
memeriksa dosisnya. Jika ragu, perawat harus berkonsultasi dengan dokter yang
menulis resep atau apoteker sebelum dilanjutkan ke pasien. Jika pasien
meragukan dosisnya perawat harus memeriksanya lagi. Ada beberapa obat baik
ampul maupun tablet memiliki dosis yang berbeda tiap ampul atau tabletnya.
Misalnya ondansentron 1 amp, dosisnya berapa ? Ini penting !! karena 1 amp ondansentron dosisnya ada 4 mg, ada
juga 8 mg. ada antibiotik 1 vial dosisnya 1 gr, ada juga 1 vial 500 mg. jadi
Anda harus tetap hati-hati dan teliti !
4.
Benar Cara/Rute
Obat dapat diberikan melalui
sejumlah rute yang berbeda. Faktor yang menentukan pemberian rute terbaik
ditentukan oleh keadaan umum pasien, kecepatan respon yang diinginkan, sifat
kimiawi dan fisik obat, serta tempat kerja yang diinginkan. Obat dapat
diberikan peroral, sublingual, parenteral, topikal, rektal, inhalasi.
- Oral , adalah rute pemberian yang paling umum dan paling banyak dipakai, karena ekonomis, paling nyaman dan aman. Obat dapat juga diabsorpsi melalui rongga mulut (sublingual atau bukal) seperti tablet ISDN.
- Parenteral, kata ini berasal dari bahasa Yunani, para berarti disamping, enteron berarti usus, jadi parenteral berarti diluar usus, atau tidak melalui saluran cerna, yaitu melalui vena (perset / perinfus).
- Topikal, yaitu pemberian obat melalui kulit atau membran mukosa. Misalnya salep, losion, krim, spray, tetes mata.
- Rektal, obat dapat diberi melalui rute rektal berupa enema atau supositoria yang akan mencair pada suhu badan. Pemberian rektal dilakukan untuk memperoleh efek lokal seperti konstipasi (dulkolax supp), hemoroid (anusol), pasien yang tidak sadar / kejang (stesolid supp). Pemberian obat perektal memiliki efek yang lebih cepat dibandingkan pemberian obat dalam bentuk oral, namun sayangnya tidak semua obat disediakan dalam bentuk supositoria.
- Inhalasi, yaitu pemberian obat melalui saluran pernafasan. Saluran nafas memiliki epitel untuk absorpsi yang sangat luas, dengan demikian berguna untuk pemberian obat secara lokal pada salurannya, misalnya salbotamol (ventolin), combivent, berotek untuk asma, atau dalam keadaan darurat misalnya terapi oksigen.
5.
Benar
Waktu
Ini sangat penting, khususnya bagi obat yang efektivitasnya
tergantung untuk mencapai atau mempertahankan kadar darah yang memadai. Jika
obat harus diminum sebelum makan, untuk memperoleh kadar yang diperlukan, harus
diberi satu jam sebelum makan. Ingat dalam pemberian antibiotik yang tidak
boleh diberikan bersama susu karena susu dapat mengikat sebagian besar obat itu
sebelum dapat diserap. Ada obat yang harus diminum setelah makan, untuk
menghindari iritasi yang berlebihan pada lambung misalnya asam mefenamat.
6.
Benar
Dokumentasi
Setelah obat itu diberikan, harus didokumentasikan, dosis,
rute, waktu dan oleh siapa obat itu diberikan. Bila pasien menolak meminum
obatnya, atau obat itu tidak dapat diminum, harus dicatat
Kesalahan Pemberian Obat
Kesalahan
pemberian obat, selain memberi obat yang salah, mencakup faktor lain yang mengubah terapi obat yang direncanakan, misalnya
lupa memberi obat, memberi obat dua sekaligus sebagai kompensasi, memberi obat
yang benar pada waktu yang salah, atau memberi obat yang benar pada rute yang
salah.
Jika
terjadi kesalahan pemberian obat, perawat yang bersangkutan harus segera menghubungi
dokternya atau kepala perawat atau perawat yang senior segera setelah kesalahan
itu diketahuinya.
Pedoman KIE Perawat kepada Pasien atau
Keluarga
Kepatuhan
terjadi bila aturan pakai obat yang diresepkan serta pemberiannya di rumah
sakit diikuti dengan benar. Jika terapi ini akan dilanjutkan setelah pasien
pulang, penting agar pasien mengerti dan dapat meneruskan terapi itu dengan
benar tanpa pengawasan. Ini terutama penting untuk penyakit-penyakit menahun,
seperti asma, artritis rematoid, hipertensi, TB, diabetes melitus, dan
lain-lain.
Terapi
obat yang efektif dan aman hanya dapat dicapai bila pasien mengetahui seluk
beluk pengobatan serta kegunaanya.
Untuk
itu sebelum pasien pulang ke rumah, perawat perlu memberikan KIE kepada pasien
maupun keluarga tentang :
1.
Nama obatnya.
2.
Kegunaan obat itu.
3.
Jumlah obat untuk dosis tunggal.
4.
Jumlah total kali minum obat.
5.
Waktu obat itu harus diminum
(sebelum atau sesudah makan, antibiotik tidak diminum bersama susu)
6.
Untuk berapa hari obat itu harus
diminum.
7.
Apakah harus sampai habis atau
berhenti setelah keluhan menghilang.
8.
Rute pemberian obat.
9.
Kenali jika ada efek samping atau
alergi obat dan cara mengatasinya
10.
Jangan mengoperasikan mesin yang
rumit atau mengendarai kendaraan bermotor pada terapi obat tertentu misalnya
sedatif, antihistamin.
12.
Setelah obat habis apakah perlu
kontrol ulang atau tidak
Penatalaksanaan Obat
Dalam membahas tentang penatalaksaan obat dibagi
menjadi 2 yaitu pemberian obat langsung ke pasien dan pengelolaan atau
penyimpanan obat di ruangan.
1. Pemberian obat ke pasien
a. Prinsip-prinsip peberian obat
Dalam
membahas tentang prinsip peberian obat hal ini dibagi menjadi 3 yaitu persiaan peberian
dan evaluasi.
1)
Persiapan
Peratama
erawat harus melihat obat apa yang akan di berikan. Kemudian mengkaji obat
(tujuan peberian cara kerja efek samping dosis dan lainnya). Setelah itu
elakukan persiapan yang berkaitan dengan pasien yaitu mengkaji riwayat
pengobatan pasien, pengetahuan pasien dan kondisi sebelum pengobatan.
2)
Pemberian
Ada 6 tahap
yang harus diperhatikan perawat dalam pemberian obat :
§ benar obat
§ benar dosis
§ benar pasien,
§ benar waktu pemberian
§ benar cara pemberian
§ benar pendokumentasian
3)
Evaluasi
Perawat
bertanggung jawab untuk memonitor respon pasien terhada pengobatan. Untuk
obat-obatan yang sering digunakan di rumah sakit jiwa efek samping biasanya
terlihat sampai 1 jam setelah pemberian.
b. Metode
pendekatan khusus dalam pemberian obat
Pemberian
obat untuk pasien gangguan jiwa memerlukan pendekatan khusus sesuai dengan
kasusnya seperti pada kasus pasien curiga pasien bunuh diri dan pasien yang
ketergantungan obat.
1)
Pendekatan
khusus kepada pasien curiga
Pada pasien
curiga tidak mudah percaya terhadap suatu tindakan atau pemberian yang
diberikan padanya. Perawat harus meyakinkan bahwa tindakan treatment yang
dilakukan ke pasien tidaklah berbahaya dan bermanfaat bagi pasien. Secara
verbal dan non verbal, erawat harus dapat mengontrol perilakunya agar tidak
menimbulkan keraguan pada diri pasien karena tindakan ragu-ragu dari perawat
akan menimbulkan kecurigaan pasien.
Berikan obat
dala bentuk dan kemasan yang sama setiap emberi obat agar pasien tidak bingung,
ceas dan curiga. Jika ada perubahan dosis diskusikan terlebih dahulu keada
pasien sebelum einta pasien untuk meminumnya. Yakinkan obat benar-benar diminum
dan ditelan dengan cara meminta pasien membuka mulut dan gunakan spatel untuk
melihat aakah obat disebunyikan. Hal ini terutaa pada pasien yang mempunyai
riwayat menyembunyikan obat di bawah lidah dan membuangnya. Untuk pasien yang
benar-benar menolak minum obat walaupun sudah dilakukan pendekatan aka emberian
obat dilakukan melalui injeksi sesuai dengan instruktur dokter dengan
memperhatikan aspek legal dan hak pasien untuk menolak pengobatan dalam keadaan
darurat.
2)
Pendekatan
khusus kepada pasien yang potensial bunuh diri.
Pada pasien
bunuh diri masalah yang sering timbul adalah penolakan pasien untuk minum obat
dengan maksud pasien untuk merusak dirinya. Perawat harus bersikap tegas dala
pengawasan pasien untuk minum obat karena pasien pada tahap ini berada dalam
fase ambivalen antara keinginan hidup dan mati. Perawat menggunakan kesempatan
treatment pada saat pasien memunyai keinginan hidup, agar keraguan pasien untuk
mengakhiri hidupnya berkurang karena pasien merasa diperhatikan. Perhatian
Perawat merupakan stimulus penting bagi pasien untuk meningkatkan motivasi
hidup. Dala hal ini peran erawat dalam memberikan obat diintegrasikan dengan
pendekatan keperawatan diantaranya untuk meningkatkan harga diri pasien.
3)
Pendekatan
khusus pada pasien ketergantungan obat
Pada pasien
yang mengalai ketegantungan obat biasanya menganggap bahwa obat adalah
segala-galanya dalam menyelesaikan masalah. Sehingga perawat perlu memberikan
penjelasan kepada pasien tentang manfaat obat dan obat bukanlah satu-satunya
cara untuk menyelesaikan masalah. Terapi obat harus disesuaikan dengan terapi
modalitas lainnya seperti penjelasan cara-cara elewati proses kehilangan
c. Pendidikan
Kesehatan
Secara moral
perawat bertanggung jawab memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan
keluarga. Pendidikan kesehatan yang perlu diberikan mencakup informasi tentang
penyakit kemajuan pasien, obat, cara merawat pasien. Pendidikan kesehatan yang
berkaitan dengan peberian obat yaitu informasi tentang obat efek samping cara
minum obat waktu dan dosis.
SEMOGA
BERMANFAAT YAAAAAA
No comments:
Post a Comment